JD.id, Bogor — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), menghadiri gelaran Kirab Budaya Binokasih yang berlangsung khidmat di Kota Bogor pada Jumat (8/5) malam. Kehadiran sosok yang akrab disapa KDM ini menjadi magnet utama dalam prosesi budaya yang menyusuri rute historis dari Jalan Batutulis hingga Jalan Suryakencana.
Tiba di kawasan Jalan Batutulis sekitar pukul 19.30 WIB, Dedi Mulyadi disambut hangat oleh warga dan jajaran Pemerintah Kota Bogor. Dalam sambutannya yang sarat akan nilai filosofis, KDM menegaskan bahwa kembalinya Mahkota Binokasih ke Bogor bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah peristiwa spiritual dan historis.
“Ini adalah awal mula Mahkota Binokasih kembali ke hakikatnya, pulang ke asalnya. Semua terjadi pada waktu yang tepat, pada masa yang utama, sebagaimana takdir yang telah tertulis di Batu Tulis. Semoga ini membawa kesejahteraan bagi masyarakat Bogor,” ujar KDM di tamu undangan dan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Dedi Mulyadi memberikan kado spesial bagi penataan kota. Ia secara resmi memberikan nama “Pelataran Binokasih” untuk area di kawasan tersebut. Tak hanya itu, KDM berkomitmen bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat akan mengambil alih tanggung jawab penataan kawasan niaga legendaris, Jalan Suryakencana.
“Ke depan, kawasan dari Batutulis hingga Gerbang Surya Kencana akan menjadi tanggung jawab Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Mulai dari penataan jalan, lampu, trotoar, hingga tamannya. Tujuannya agar Pak Wali Kota bisa lebih fokus melakukan penataan di tingkat kelurahan-kelurahan,” tegasnya.
Dedi Mulyadi juga mengulas sejarah panjang Mahkota Binokasih yang merupakan peninggalan Kerajaan Pajajaran. Ia mengingatkan bahwa Bogor adalah pusat dari Pakuan Pajajaran yang dipimpin oleh raja-raja besar seperti Niskala Wastu Kancana hingga Sri Baduga Maharaja yang bergelar Prabu Siliwangi.
Ia menjelaskan bahwa mahkota tersebut dibuat di tanah Kawali oleh Buni Sora sebagai bentuk penghormatan setelah gugurnya Prabu Linggabuwana. KDM menekankan bahwa semangat menghidupkan kembali tradisi ini adalah untuk mengembalikan marwah kesundaan.
“Semangatnya ada tiga: mengembalikan pada tanahnya, mengembalikan pada airnya, dan mengembalikan pada jati dirinya. Kita harus menjaga agar ‘Jati teu kasilih ku junti’, identitas asli kita sebagai pribumi jangan sampai tersisih atau hilang oleh pengaruh luar,” tungkasnya.
Acara Kirab Budaya Binokasih ini diharapkan KDM dapat menjadi agenda tahunan resmi. Hal ini bertujuan agar masyarakat Sunda, khususnya di Bogor, memiliki momen refleksi untuk kembali ke akar kebudayaan mereka di tengah modernisasi zaman.













