JD.id, Jakarta – — Pfizer Indonesia resmi meluncurkan kampanye edukasi kesehatan pernapasan bertajuk “Lindungi Napasmu Jaga Momen Berarti” di Jakarta. Kampanye ini dihadirkan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dewasa, khususnya para pendamping (caregiver), mengenai pentingnya memahami risiko pneumonia dan berkonsultasi dengan dokter sejak dini.
Langkah ini dilatarbelakangi oleh hasil survei yang menunjukkan masih rendahnya pemahaman masyarakat mengenai risiko pneumonia pneumokokus. Sebanyak 20 persen responden masih menganggap pneumonia sama dengan flu biasa, sementara 42 persen responden hanya mengaitkan risiko pneumonia dengan penyakit paru-paru, tanpa menyadari risiko tinggi pada penderita diabetes (9 persen) dan penyakit jantung (11 persen).
Cluster Lead Pfizer Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Filipina, Deborah Seifert, menegaskan pentingnya edukasi ini bagi para keluarga di Indonesia.
“Merawat seseorang juga berarti memahami risiko kesehatan yang mungkin tidak mereka sadari sendiri. Temuan ini menegaskan pentingnya menyampaikan informasi yang jelas dan mudah dipahami tentang pneumonia kepada keluarga di Indonesia, terutama mereka yang mendampingi orang tua lanjut usia atau orang tersayang dengan kondisi kronis,” ujar Deborah.
Spesialis Penyakit Dalam, dr. Joyce Bratanata, Sp.PD, mengingatkan agar masyarakat tidak meremehkan gejala awal pernapasan karena pneumonia dan flu merupakan dua hal yang berbeda.
“Pneumonia dan flu bukan penyakit yang sama, meskipun flu dapat berkembang menjadi pneumonia. Keduanya bisa menimbulkan batuk dan demam, sehingga keluarga sebaiknya tidak menyimpulkan penyababnya berdasarkan gejalanya saja. Sesak napas atau nyeri dada perlu segera diperiksakan ke dokter,” tegas dr. Joyce.
Edukasi ini juga dinilai sangat krusial bagi calon jemaah yang sedang mempersiapkan perjalanan ibadah haji atau umrah, di mana 57 persen responden mengantisipasi risiko penyakit pernapasan saat berada di kerumunan. Dokter Keluarga Klinik Kimia Farma, dr. Meidi Nursasih, mengimbau agar konsultasi kesehatan dilakukan jauh sebelum hari keberangkatan.
“Angkat pembicaraan ini dua atau tiga bulan sebelum keberangkatan, bukan di ruang tunggu bandara, karena saat itulah masih ada waktu untuk mengendalikan kondisi kesehatan dan membicarakan dengan tepat perlindungan apa yang sesuai untuk orang tersebut,” kata dr. Meidi.
Dari sisi pendamping keluarga, Fenita Arie turut membagikan pandangannya mengenai perlindungan kesehatan bagi orang-orang tersayang.
“Mempelajari soal pneumonia adalah satu cara lagi untuk menjaga orang-orang yang kita sayangi. Bagi saya, Jaga Momen Berarti adalah tentang hadir dalam berbagai momen sederhana yang ingin terus kita bagi,” tutur Fenita.
Melalui kampanye ini, masyarakat diimbau untuk lebih aktif berdiskusi dengan tenaga medis dan rutin melakukan pemeriksaan kesehatan guna mencegah risiko penyakit pernapasan secara menyeluruh.













