Jakarta — Pameran Eastfood Indonesia Virtual Expo 2020 yang pastinya berbeda dari tahun sebelumnya, dikarenakan pameran ini dihadirkan secara virtual agar dapat diakses masyarakat luas sekaligus mematuhi protokol kesehatan Covid-19.

CEO Krista Exhibitions, Daud Dharma Salim mengatakan, Pameran ini akan diadakan di tiga hall virtual yang diikuti oleh hampir 200 perusahaan dari dalam maupun luar negeri.
” Kami mengharapkan melalui pameran virtual ini apa yang biasa menjadi offline iti akan bisa terjadi pada pameran virtual. Dimana setiap pembila dan pengunjung yang hadir bisa mencari produk yang mereka kehendaki dan bisa pre regristed dan mereka bisa bertemu atau bertatap muka menggunakan platform video call , dan juga bisa berkomunikasi melalui live chating dan melihat e- produk, e- brosur dari masing – masing pameran ini,” kata Daud dalam opening ceremony Pameran Eastfood Indonesia Virtual Expo 2020, Selasa (08/12).
Lanjutnya, selama pameran berlangsung mulai dari tanggal 8 – 13 Desember 2020, bisa dijadikan banyak koneksi yang terjalin dan merupakan ajang promosi juga produk Indonesia berupa herbal, jamu, makanan dan minuman didalam negeri maupun internasional. Begitupula dengan hasil laut dan teknologi pendingin.
Adapula, kegiatan webinar seperti live demo cooking, dan juga kompetisi secara virtual dengan jumlah kurang lebih 65 acara. Dan disini juga ada 25 perusahaan UMKM yang juga ikut ambil bagian.

Menteri Perdagangan Republik Indonesia, Agus Suparmanto dalam sambutannya mengatakan, dimasa pandemi memang memberikan imbas yang sangat signifikan disegala lini kehidupan dimana beberapa kegiatan perekonomian dan perdagangan sempat terhenti untuk beberapa saat dan muncul kegiatan pengetatan arus barang demi menekan penyebaran covid-19.
” Dalam hal ini mencatat angka surplus sebesar US$ 17, 07 milyar, namun nilai ekspor tercatat turun sebesar 5,58 persen menjadi US$ 131,24 milyar dari US$139 milyar dari periode tahun yang sama sebelumnya,” ujar Agus.
” Beberapa kesempatan Bapak Presiden Joko Widodo berpesan kepada kita semua untuk tetap optimis, bergerak solid, cepat, jeli dan responsive dalam melihat peluang yang mungkin muncul dari kondisi saat ini,” ungkapnya.
Mendag Agus juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada PT Krista Media Pratama selaku penyelenggara yang mendukung upaya pemerintah pusat dalam peningkatan ekspor, serta berinisiasi dan bekerja keras untuk mempersiapkan kegiatan ini bersama pihak terkait lainnya . Kegiatan ini merupakan terobosan untuk mendorong ke berlanjutan dan peningkatan promosi produk Indonesia kepasar global dimasa pandemi.
” Besar harapan kami pameran virtual ini menjadi momentum bangkitnya geliat promosi ekspor produk Indonesia,”ujarnya.

Sedangkan Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Terawan Agus Putranto menjelaskan, terkait produk jamu yang saat ini sudah lebih dari 11.000 produk terdiri dari 72 produk herbal berstandart dan 24 produk fitofarmaka yang beredar di Indonesia.
” Jamu telah terbukti secara klinis yang merupakan produk Indonesia yang harus didukung agar menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi tamu terhormat diranah global,” ungkapnya.
Melalui pameran ini Menkes Terawan mendukung aktifitas dan usaha dalam mengembangan obat tradisional serta meningkatkan transaksi obat tradisional baik didalam negeri maupun diluar negeri, untuk memperkuat perekonomian nasional ditengah pandemi covid-19.

Hal yang sama juga diungkapkan Kepala Badan POM Republik Indonesia, Penny K Lukito bahwasanya dimasa pandemi yang intensif sangat mendukung kegiatan yang sangat penting terkait Pameran Virtual Herbal dan Jamu Expo yang diselenggarakan oleh Krista Exhibitions.
“Ini adalah terobosan dari adaptasi kita dalam kebiasaan baru dan tentunya kali ini pengembangan dalam mempromosikan industri produk herbal dan jamu Indonesia,” ujarnya.
“Selama pandemi popularitas produk jamu dan herbal semakin meningkat, seiring denga tumbuhnya kesadaran masyarakat untuk memelihara kesehatan dan daya tahan tubuhnya dengan mengkonsumsi berbagai produk natural antara lain dari jamu ataupun produk obat berbahan alam. Ini menjadi peluang bagi pelaku usaha untuk tetap menyediakan produk yang aman dan bermutu bagi konsumen,” tuturnya.
Sebagai Badan BPOM dalam hal ini sebagai otoritas regulatori obat , makanan masuk didalamnya obat berbahan alam ataupun herbal senantiasa mendukung pengembangan penelitian (research) dan pemanfaatan dari sumber daya herbal Indonesia menjadi Obat Modern Indonesia (OMAI) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.
” Hingga saat ini BPOM telah melakukan pengawalan 14 penelitian obat herbal untuk penangulangan covid-19. Dengan melakukan pendampingan kapasitas regulasi baik untuk para peneliti dan para pelaku usaha yaitu berupa pendampingan, coaching clinic , dan work shop pelatihan cara uji klinik yang baik disertai dengan berbagai upaya inovasi tang dikembangkan untuk memberikan kemudahan, fleksibilitas, baik uji pra klinik maupun uji klinik dan juga proses regristrasinya nanti,”kata Penny K Lukito.













