Din Syamsuddin: Kerukunan Bangsa Tak Hadir Otomatis, Harus Direkayasa Nyata

Jd.id, Jakarta —  Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations (CDCC) menekankan pentingnya merajut kemajemukan sebagai fondasi utama kerukunan dan kemajuan bangsa. Hal ini menjadi krusial di tengah tantangan sosial, ekonomi, dan politik yang diprediksi kian kompleks sepanjang tahun 2026.

Ketua CDCC, Prof. Din Syamsuddin, menyatakan bahwa kemajemukan Indonesia merupakan ketetapan sekaligus karunia yang tidak pernah dipilih, namun wajib dirawat secara sadar demi masa depan bangsa. Menurutnya, merawat keragaman agama, suku, bahasa, dan budaya adalah kewajiban kolektif seluruh elemen masyarakat.

Din menegaskan bahwa kerukunan tidak hadir secara otomatis melainkan harus direkayasa secara nyata dan berkelanjutan. Meski persatuan bangsa saat ini relatif terjaga, ia mengingatkan agar semua pihak tidak menutup mata terhadap gejala keretakan sosial. Ketegangan yang bersumber dari sentimen primordial SARA maupun perbedaan kepentingan politik sering kali menjadi pemicu konflik yang serius.

Lebih lanjut, Din menjelaskan bahwa stabilitas nasional akan terancam jika disharmoni horizontal antarwarga bertemu dengan disharmoni vertikal antara rakyat dan pemerintah. Fenomena ini diistilahkan sebagai gejala retaknya perahu besar bangsa yang harus diantisipasi melalui mawas diri dan muhasabah bersama oleh para penyelenggara negara, organisasi masyarakat, hingga partai politik.

CDCC juga menyoroti gelombang ketidakpuasan sosial yang terjadi pada pertengahan tahun lalu sebagai cermin persoalan struktural yang mendalam. Fenomena unjuk rasa tersebut dinilai bukan persoalan sederhana, melainkan dampak dari tekanan ekonomi di sektor informal, kecemasan kelas menengah, serta rasa ketidakadilan akibat berbagai kebijakan seperti kenaikan pajak dan biaya hidup yang tinggi.

Secara makro, ekonomi Indonesia memang dinilai stabil, namun kualitas pertumbuhannya dianggap masih rendah. Tantangan utama terletak pada minimnya penciptaan lapangan kerja formal dan ketergantungan pada konsumsi domestik.

Oleh karena itu, CDCC menaruh harapan besar kepada Presiden Prabowo Subianto agar dapat mengambil langkah strategis untuk membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju dan bermartabat.
Agenda Strategis Internasional

Di tengah dinamika global yang diwarnai konflik bersenjata dan politik kebencian, CDCC memandang dialog jujur dan kolaborasi global sebagai satu-satunya jalan keluar. Sebagai langkah nyata, CDCC telah menyiapkan sejumlah agenda strategis yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat untuk memperkuat hubungan antarperadaban.

Setelah sukses dengan Forum Perdamaian Dunia, CDCC akan memperingati World Interfaith Harmony Week pada Februari mendatang. Selain itu, akan digelar pula Dialog Pemuda Lintas Agama ASEAN sebagai ruang membangun pemahaman generasi muda, serta penyelenggaraan Majelis Cendekiawan Madani Malaysia–Indonesia pada Agustus 2026 untuk memajukan kehidupan umat di kawasan serantau.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *