Perkuat Sinergi dengan Media, Pertamina Hulu Indonesia Gelar BASO IGA PHI

JD.id, Jakarta  – PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) kembali mempererat hubungan strategis dengan insan media melalui kegiatan BASO IGA PHI dengan mengusung tema “Merajut Silaturahmi, Menguatkan Sinergi untuk Energi Negeri yang Berkelanjutan” yang berlangsung di Jakarta pada Kamis (23/4).

​Kegiatan ini dirancang sebagai ajang silaturahmi sekaligus ruang diskusi santai guna memperkuat kolaborasi dalam pemberitaan sektor energi, khususnya pada industri minyak dan gas bumi nasional.

​Dalam sambutannya, Sr. Manager Relations PHI, Handri Ramdhani, menyampaikan apresiasi mendalam atas kontribusi media dalam menyebarkan informasi positif terkait industri migas. Ia mencatat bahwa sepanjang tahun 2025, terdapat lebih dari 6.500 pemberitaan mengenai perusahaan di berbagai media massa.

“Tahun 2025 lalu, ada lebih dari 6.500 pemberitaan tentang Perusahaan di media massa dan lebih dari 98 persen adalah berita positif. Hal ini menunjukkan pencapaian yang baik dalam upaya untuk terus menyampaikan informasi publik yang memberikan dampak positif bagi Perusahaan dan industri migas nasional,” jelas Handri.

​Dalam sesi tersebut, Handri juga memaparkan profil serta operasional bisnis hulu migas perusahaan kepada para jurnalis. Ia meyakini bahwa pemahaman mendalam terhadap industri akan menghasilkan karya jurnalistik yang lebih berkualitas.

​”Kami meyakini bahwa pemahaman yang lebih baik tentang Perusahaan dan industri ini akan mendorong penulisan berita yang lebih akurat dan berdampak positif terhadap edukasi publik,” imbuhnya.

Dalam acara tersebut, terdapat  sesi talkshow inspiratif bersama Manager Communication Relations & CID PHI, Dony Indrawan, yang bertajuk “Tips Sukses Mengelola Perubahan dalam Kehidupan”.

​Dony menekankan bahwa perubahan adalah sebuah kemiscayaan yang tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Ketidaksiapan dalam menghadapi perubahan sering kali menjadi akar dari kegelisahan manusia. Menurutnya, kemampuan beradaptasi adalah kunci utama untuk meraih ketenangan batin di tengah ketidakpastian.

​”Kenapa kita perlu beradaptasi? Balik lagi jawabannya, karena perubahannya pasti terjadi. Dan karena ada perubahan, ada ketidakpastian. Kalau kita tidak beradaptasi, kita tidak akan mampu mengelola ketidakpastian itu,” ujar Dony.

Ia menjelaskan bahwa perubahan tidak pernah memerlukan izin atau persetujuan dari subjek yang mengalaminya, baik itu soal usia maupun kondisi fisik. Ia mengingatkan agar manusia tidak bersikap sombong di hadapan perubahan yang alami.

​”Perubahan tidak memerlukan persetujuan kita. Kalau dia berubah, ya berubah saja. Selesai cerita. Apa yang kita lakukan? ..Kita beradaptasi dan berubah,” tambahnya.

​Lebih lanjut, ia menganalisis bahwa ketakutan manusia sebenarnya bukan terletak pada perubahan itu sendiri, melainkan pada rasa takut kehilangan kenyamanan, relasi, hingga kendali atas jabatan. Dony menyarankan agar setiap individu mempersiapkan diri sejak dini melalui kesehatan fisik dan spiritualitas yang kuat.

​Baginya, spiritualitas yang matang akan membantu seseorang menjadi lebih tangguh karena adanya sikap pasrah terhadap takdir.

​”Orang-orang yang punya spiritual tinggi cenderung memang lebih jagoan dalam mengelola perubahan karena dia tidak terlalu banyak dihinggapi perasaan stres. Kalau tahu itu selesai. Menurut kita buruk, belum tentu buruk di mata Allah. Menurut kita baik, belum tentu baik di mata Allah. Maka serahkan sama yang punya,” pesan Dony.

​Sebagai penutup, ia memberikan tips untuk tetap konsisten dalam jalur perubahan, yakni dengan memiliki alasan yang kuat (strong why), memberikan waktu yang cukup bagi proses tersebut, serta berada di lingkungan yang mendukung. Dengan pendekatan tersebut, perubahan diharapkan tidak lagi menjadi beban, melainkan jalan menuju kualitas hidup yang lebih baik.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *