JD.id, Jakarta — Keindahan bawah laut Indonesia Timur, khususnya Maluku Utara, kembali menjadi sorotan dalam ajang Deep and Extreme Indonesia (DXI) 2026 yang digelar di Jakarta. Jumat (24/4).
Dalam rangkaian gelaran DXI 2026, pada Jumat (24/4) saat sesi talksow bertajuk “Hidden Paradise: Maluku Utara Uncovered”, hadir sebagai narasumber, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda yang membagikan pengalamannya mengeksplorasi kekayaan bahari wilayahnya.
Bagi Sherly, diving bukan sekadar hobi, melainkan cara untuk menemukan ketenangan di tengah kesibukan birokrasi.
Siapa sangka, sosok nomor satu di Maluku Utara ini dulunya sempat merasa ragu untuk masuk ke dalam air. Sherly mengaku mulai belajar menyelam saat mendampingi almarhum suaminya, Benny Laos, yang kala itu menjabat sebagai Bupati Morotai (2017-2022).
”Awalnya deg-degan. Saya sempat berpikir kalau lihat hiu di bawah laut bisa pingsan. Tapi saya sadar, tidak bisa jualan (promosi wisata) kalau tidak paham sendiri,” kenang Sherly di hadapan pengunjung DXI 2026 di JCC, Jakarta.
Namun, ketakutan itu sirna begitu ia turun ke bawah laut. Sherly justru jatuh cinta pada suasana sunyi di kedalaman.
”Ternyata ada ketenangan yang didapat di bawah laut. Sekarang, kalau kegiatan di darat sudah padat, sebisa mungkin setiap minggu saya diving untuk refreshing,” tambahnya.
Salah satu keunggulan Maluku Utara, menurut Sherly, adalah aksesibilitas titik penyelaman yang unik. Di Morotai, terdapat Shark Point yang memungkinkan penyelam berinteraksi dengan hiu sirip hitam (blacktip shark).
Berbeda dengan lokasi lain yang mungkin membutuhkan perjalanan jauh, Shark Point di Morotai hanya berjarak 20-30 menit menggunakan speedboat dari hotel.
”Kedalaman 10 meter saja sudah bisa ketemu hiu. Persentasenya 100 persen selalu ada. Hiunya juga cukup jinak asal tidak disentuh,” jelasnya.
Selain wisata hiu, Maluku Utara juga menawarkan situs sejarah bawah laut berupa shipwreck atau bangkai kapal sisa Perang Dunia II yang tersebar di beberapa titik.
Meski memiliki potensi luar biasa, Sherly mengakui bahwa pariwisata Indonesia Timur masih terbentur masalah klasik: harga tiket pesawat yang tinggi. Hal ini seringkali membuat wisatawan domestik ragu untuk berkunjung.
Menyikapi hal tersebut, Pemerintah Provinsi Maluku Utara tengah menggodok strategi khusus untuk menarik lebih banyak pelancong dari wilayah barat Indonesia.
”Bottlenecking-nya memang di biaya tiket. Kami sedang berdiskusi dengan stakeholder untuk menyiapkan festival di mana nantinya ada subsidi tiket atau paket ekonomis,” ungkap Sherly.
Di sisi lain, Sherly menekankan pentingnya menjaga ekosistem agar tetap pristine atau terjaga keasliannya. Untuk mencegah overexposure di titik selam populer, komunitas dive center di Maluku Utara telah menyepakati aturan tidak tertulis.
”Kami tidak melakukan feeding secara berlebihan. Ada kesepakatan antar-dive center untuk membatasi frekuensi kunjungan di satu titik yang sama dalam sehari. Sustainability hanya bisa terjaga jika kita punya komitmen bersama,” pungkasnya.
Selain kekayaan laut, Maluku Utara juga menawarkan wisata sejarah melalui empat kesultanan besar serta wisata pendakian gunung api, seperti Gunung Dukono, bagi para pencinta petualangan darat.













