JD.id, Jakarta — Organisasi Perubahan Sosial Indonesia (OPSI) selaku SSR program CSS EEA GF NFMc menggelar workshop dengan tema “Workshop for Jurnalism – Reporting on HIV and TB Issues”.
Acara yang berlangsung selama 2 hari mulai dari tanggal 18 – 19 Agustus 2021 ini dilaksanakan melalui zoom meeting yang diikuti oleh lebih dari 43 peserta baik dari OPSI, Kementrian Kesehatan, Indonesia AIDS Coalition (IAC), GWL – INA maupun jurnalis dari beberapa kota di Indonesia.
Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan dalam meliput isu HIV/AIDS secara lebih objektif dan tidak mengandung stigma terhadap populasi kunci. Selain itu diharapkan dapat meningkatkan empati serta mampu mengembangkan publikasi yang berdasarkan fakta medis terhadap permasalahan HIV/AIDS.
Situasi HIV/AIDS di Indonesia
Kasie Subdit AIDS, Kemenkes RI, Dr. Lanny Luhukay menjelaskan berdasarkan data di tahun 2020, jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHA) di indonesia mencapai 543.100 orang.
Maka dari itu, diperlukannya publikasi agar masyarakat mengetahui pengetahuan dasar yang baik.
“Hal ini supaya masyarakat mengetahui pengetahuan dasar informasi tentang HIV/AIDS, dan mereka boleh datang ke Fasyankes (Puskesmas dan Rumah Sakit),” kata Lanny Luhukay, Rabu (18/08).
Lanny mengingatkan, epidemi HIV/AIDS bisa berakhir di dunia pada tahun 2030, dengan menerapkan indikator 90 persen melalui tiga tahapan yakni, Pertama agar mencapai 90 persen ODHA telah mengetahui status kondisi mereka, dengan caranya melakukan tes darah.
“Kalau tidak datang dan tidak melakukan tes screening kita tidak bisa menetapkan terinfeksi HIV atau tidak,” ujar Lanny.
Kedua, dari setelah ditemukan 90 persen orang yang telah didiagnosa terinfeksi HIV selanjutnya harus akses terapi obat antiretroviral (ARV) bagi orang dengan HIV/AIDS (ODHA) bisa didapatkan secara gratis di puskesmas.
Selanjutnya 90 persen yang ketiga, bahwa setiap orang yang meminum obat ARV virusnya telah mengalami penurunan, untuk mengetahuinya diperlukan waktu selama 6 bulan untuk mengkonsumsi.
Mengenai standar pelayanan minimum orang yang hidup dengan HIV perlunya dukungan untuk konseling ARV, diberikan pemberian ARV, pemantauan kepatuhan, pemantauan klinis, pemantauan laboratorium.
Stigma orang yang hidup dengan HIV mengapa berbeda dengan penderita Tuberkulosis (TB)?.
dr Maya Trisiswati MKM, Dosen Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran Yarsi sekaligus sebagai penggiat HIV/AIDS menjelaskan, TB tidak menjadi suatu yang menakutkan “bagi masyarakat” beda dengan HIV.
“Kita boleh mengatakan stigma dan diskriminasi memang jauh berkurang tetapi, saya meyakini bahwa itu tetap masih ada,” tutur Maya.
“Seperti 2 bulan yang lalu saya maaih mendengar laporan seseorang yang didiskriminasi dilayanan pemerintah, inilah yang menjadi PR bersama jurnalis dan tenaga kesehatan adalah garda depan untuk menekan stigma dan diskriminasi,” ungkapnya.
Perlu diketahui, bahwa orang yang terinfeksi HIV itu bukanlah akhir dari segalanya ketika, ARV sudah ditemukan dan infeksi penyerta sudah disembuhkan maka harapan hidupnya kemungkinan akan sama dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Selain itu harus adanya perubahan prilaku yang beresiko menjadi tidak beresiko, konsumsi gizi yang seimbang dan berpikir positif serta dukungan psikologis yang paling penting sehingga akhirnya tidak lagi terditeksi.
Maya menekan mengenai seberapa penting TB perlu diketahui terkait HIV, ini memang harus menjadi perhatian karena memang ternyata sekitar 40 persen infeksi oportunistik pada HIV itu adalah TB dan sangat menular. TB menjalankan pengobatan intensif yang cukup lama yakni 2 bulan dan pemulihan selama 4 bulan. Kenapa TB banyak?, karena Indonesia termasuk negara peringkat ke -3 dengan TB tertinggi di dunia.
“Orang TB biasanya akan bosan kalau tidak memiliki Pendamping Minum Obat (PMO) yang baik. Biasanya kalau putus obat dikhawatirkan kebal,” ujar Maya.













