JD.id, Jakarta — Asosiasi Pendidikan Tinggi Arsitektur Indonesia (APTARI) gelar Rapat Kerja Nasional (Rakernas) kepengurusan periode 2021 – 2024, yang dilaksanakan secara hybrid terdiri lebih dari 500 peserta secara daring dari 141 universitas yang ada di Indonesia, dan juga lebih kurang sebanyak 20 peserta secara luring yang berlangsung di BINUS Square Hall of Residence.
Rakernas yang pertama ini mengangkat tema “Hulu Hilir Pendidikan Arsitektur di Indonesia.” Periode ini diawali dengan pengejawantahan lebih serius pendidikan arsitektur 5 tahun sebagai konsekuensi logis dari keanggotaan Indonesia di forum Union Internationale des Architectes atau International Union of Architects ( UIA).
Dekan Fak.Tehnik Universitas Binus Dr. Ir. John Fredy Bobby Saragih, MSi, PhD, mengatakan, dalam kegiatan ini pihaknya dipercaya oleh APTARI sebagai host untuk membantu kelancaran rakernas selama dua hari mulai dari tanggal 26 & 27 November 2021.
“Tugas kami sebagai tuan rumah mensupport untuk menyiapkan sarana dan prasarana agar kegiatan ini berjalan dengan lancar,” kata John, di Jakarta, Jumat (26/11).
Sedikit menilik kebelakang, BINUS University yang memiliki 11 kampus tersebar di beberapa kota di Indonesia terdiri dari 6 kampus di Jakarta, 2 kampus di Tangerang, 1 kampus di Bekasi, 1 kampus di Bandung, 1 kampus di Malang, dan 1 kampus di Semarang.
Dengan penerapan program (2+1)+1 yang ditujukan bagi mahasiswa, diharapkan dapat mampu mencapai komitmen yakni 2 dari 3 lulusan BINUS University dapat bekerja di perusahaan global atau menjadi entrepreneur.
Artinya, tidak hanya membekali mahasiswa dengan pengalaman belajar di kampus, mahasiswa juga diberikan pengalaman langsung di dunia industri.
“Jadi 3 tahun mereka berada di kampus dan 1 tahun berada di industri untuk magang secara profesional dan disitulah mereka akan menunjukkan performance,” ujar Jhon.
Lain dari pada itu, BINUS University juga menyiapkan salah satu center yakni Binus Career yang menyalurkan Binusian ke setiap industri – industri yang ada.
” Pengembangan yang akan kami lakukan sekarang bagaimana Program Studi Arsitektur ini bisa berkolaborasi dengan beberapa program studi yang lain,” imbuhnya.
Ia mencontohkan, seperti jurusan Computer Engineering bisa dengan bidang Tehnik Industri. Sehingga diharapkan hasil karya mahasiswa ini memang sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Menyingkapi kesiapan BINUS University menghadapi revolusi industri 4.0 di bidang arsitektur. Jhon menerangkan, bahwa hal tersebut sudah menjadi bagian dalam kurikulum di BINUS University yang dikembangkan sedemikian rupa diseluruh program studi yang diantaranya dengan menerapkan metode Building Information Modeling (BIM) yang menjadi salah satu keunggulan.
“Dan ada juga program sertifikasi berskala internasional dan tentunya untuk mempersiapkan mereka yang selaras dengan dunia industri,” kata Jhon.
Diwaktu yang sama, Ketua APTARI, Dr. Yulianto Purwono Prihatmaji, S.T., M.T., IPM., IAI memaparkan isu-isu kewilayahan pendidikan arsitektur di Indonesia, serta kebutuhan akreditasi internasional dan tuntutan pendidikan arsitektur 5 tahun.
Yang pada intinya dua poin yang digaris bawahi yakni, Pertama, ingin merapikan platform program pendidikan arsitektur yang ada di Indonesia sesuai dengan tema yang diangkat.
Kedua, pihaknya juga ingin merapikan hubungan dengan kolega yang lain yakni, Ikatan Arsitek Indonesia , Dewan Arsitek Indonesia dan juga lembaga kementrian yang terkait dengan pendidikan Arsitektur.
Menurut Yulianto, perlunya memperkuat tentang pendidikan arsitektur mulai dari Hulu yang ada saat ini pendidikan D3, D4, S1 dan PPAr , S2 dan S3. Sedangkan ketika hilir misalnya dijadikan jabatan kerja ada beberapa yang harus di cocokkan, sehingga ini menjadi kuat pendidikan arsitektur di hulu dan semakin menguatkan profesi Arsitek Indonesia.
Hal ini bukan tanpa alasan, karena jika tidak disiapkan dikhawatirkan nantinya hanya jadi penonton saja.
Selain itu pembicara lainnya yakni Direktur Belmawa, Ditjen Dikti, Kemendikbud, Prof. drh. Aris Junaidi, Ph.D menyampaikan, paparannya dengan topik MBKM dalam Pendidikan Arsitektur di Indonesia
“Dalam dua tahun terakhir ini semua menghadapi tantangan yang luar biasa, baik dari society 5.0 dan industry 4.0 di abad 21 ini. Dan ada baiknya lulusan arsitektur perlu dibekali keahlian – keahlian tambahan,” ujar Aris Junaidi.
Maka dari itu, Aris Junaidi menekankan yang tidak kalah penting adalah menguatkan kwalitas karakter. Sehingga mahasiswa – mahasiswa kita dapat kuat menghadapi perubahan lingkungan yang ada. ( Sari)













