Pentingnya Sinergi Antar Lembaga dan Komunitas Dalam Penangulangan HIV/AIDS Dimasa Pandemi Covid-19

Jakarta —  Perlunya sinergis antar lembaga dan komunitas terkait mencegah , menanggulangi, mengobati bagi penderita HIV/ AIDS dan juga membantu merehabilitasi.

Selain itu, orang yang terinfeksi HIV (ODHIV)  diharapkan diperlakukan  sama seperti orang lain, hal ini diungkapkan Tri Wicaksono selaku Komisi Penanggulan AIDS (KPA) Kota Jakarta Selatan seksi Monitoring dan Pelaporan, usai diskusi bersama beberapa komunitas peduli AIDS, di Jakarta Selatan, (12/11).

Tri menjelaskan terkait pelayanan rapid test untuk ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) dimasa pandemi covid-19 tetap dilayani dengan baik.

“Pemerintah sudah all out, semua jajaran kesehatan sudah diperintahkan presiden untuk menanggulangi ini, dimulai dari bulan Maret, dengan kebijakan dan tindakan, serta menjalankan prilaku 3M. Disamping itu layananan kesehatan  seperti rapid test sudah ada dipuskesmas  yang sudah ditunjuk, kalaupun ada yang ditutup itupun adanya penyebaran virus covid- 19 akan dialihkan tempat layanan lain,” kata Tri.

Namun ia juga mengatakan, ada beberapa kebijakan untuk pelaksaan mobile Voluntary Counselling and Testing (VCT) atau pemeriksaan secara sukarela di tempat hiburan malam ditiadakan dahulu. Kalaupun sekarang sudah boleh tapi tetap menjalankan protokol kesehatan yang ketat.

“Kalau di Puskesmas pusat pelayanan stastis, datang dengan memeriksakan kesehatan dan pengambilan ARV tetap dilayani, hanya dibatasi jumlahnya dengan protokol kesehatan yang ketat,” ujar Tri.

Ia menambahkan, masalah akses ARV
agar mengurangi frekuensi seringnya kepuskesmas dimasa pandemi, maka ada  kebijakan mendapatkan stok obat langsung selama 3-6 bulan lewat pemberian obat multi-month dispensing (MMD).

Dikesempatan yang sama, Wulan perwakilan dari Fokal Poin Kota Jakarta Selatan, meminta jangan pemeriksaan dan penanggulan HIV /AIDS tidak hanya terfokus pada komunitas populasi kunci yang terdiri dari komunitas Pekerja Seks Perempuan (PSP), komunitas Transgender (TG) dan orang yang terinfeksi HIV (ODHIV). Akan tetapi semua làpisan masyarakat juga sangat beresiko.

” Memang peran pemerintah sangat penting khususnya dalam situasi pandemi covid-19 saat ini,” ujar Wulan.

” Sebenarnya apa yang sudah dilakukan komunitas maupun LSM dibidang HIV sudah banyak yang sudah dilakukan, tetapi bagaimana caranya mengajak peran serta seluruh lapisan masyarakat juga ikut dalam penanggulangan HIV,” tuturnya.

Ia mencontohkan, bagaimana disuatu daerah atau wilayah yang didomisilinya tidak berani mengungkapkan kepada stakeholder, yang terkadang mereka datang ke kelurahan takut dengan identitasnya. Inilah salah satu peran dari Fokal Poin yang merupakan penyambung lidah bagi  sekumpulan komunitas populasi kunci, dalam hal  pendampingan bagi orang yang terinfeksi HIV.

“Bagaimana mereka bisa mendapatkan akses kesehatan tanpa memandang status sosial pekerjaan,” ujar Wulan.

Wulan mengungkapkan harapannya terkait komunitas kunci  agar lebih dikenal lagi kearah kegiatan sisi positifnya.

“Bahwa mereka juga punya keahlian yang memang berguna ditengah masyarakat,” pungkasnya.