DKI  

Jumlah Omzetnya Menurun di Pameran Jakarta Fair,  H. Roji Tetap Optimis Sebagai Pelaku UMKM

Jumlah Omzetnya Menurun di Pameran Jakarta Fair,  H. Roji Tetap Optimis Sebagai Pelaku UMKM

JD.id, Jakarta — Ribuan stand terdiri dari pemprov, anjungan provinsi dan kabupaten,  skala usaha BUMN, UMKM serta koperasi dari seluruh Indonesia turut serta menawarkan produk unggulan di ajang Pekan Raya Jakarta (PRJ)  atau Jakarta Fair 2022 yang digelar di JIExpo Kemayoran.

Tidak ketinggalan salah satunya usaha milik  H. M. Syaeroji  yang biasa di sapa H. Roji , yang ternyata setiap tahunnya tidak pernah absen mengikuti pameran.

” Sudah 20 tahun selalu mengikuti,” ujar H. Roji saat ditemui awak media pada hari Minggu jelang penutupan Jakarta Fair (17/7).

Dia menambahkan, selama 39 hari pameran, animo pengunjung sangat tinggi akan tetapi daya beli menurun dibanding tahun sebelumnya.

“Biasanya 2 minggu  sudah ketutup tapi ini mau akhir baru mau untung. Lumayan untuk keuntungan 10 persen,” ujar H. Roji.

Dirinya juga menyayangkan karena harga tiket yang terbilang mahal apalagi jika pengunjung ingin melihat konser musik dikenakan biaya lagi dan membuat beberapa masyarakat tidak dapat menikmati gelaran ini.

Dia berharap ditahun depan apalagi ini salah satu hari ulang tahun Jakarta agar UMKM terutama yang dari daerah selalu eksis agar pihak penyelenggara menurunkan harga sewa stand. Dikarenakan ini juga berdampak bagi pemilik stand UMKM yang berdiri sendiri yang tidak mendapatkan anggaran dari pemerintah seperti halnya yang ia rasakan.

“Walaupun pemerintah daerah anggaran tidak ada, akan tetapi saya tetap ikut dan setiap tahun saya selalu membuka 3 stand. Saya disini saya selalu  membawa nama ( perwakilan) Lebak, Banten, bagaimanapun juga saya dulu berawal dari binaannya. Istilahnya saya : kacang tidak lupa kulitnya,” ujarnya.

Berbagai produk yang dijual olehnya namum ada  produk unggulan yang sudah cukup lama dikenal yakni, minuman kesehatan alami yang terbuat dari jahe merah dan gula merah ditambah bahan rempah- rempah yang dinamakan “Labeur Jahe”.

“Untuk produksi kita kerjakan secara sendiri yang dimasak selama 3 jam dibuat secara handmade tampa menggunakan mesin. Dan cara memasaknya menggunakan arang sehingga dari rasa beda (dari merek lainnya) dan alami,” ungkapnya

Ia menyebutkan selama pameran berlangsung selalu menyiapkan tester untuk dicoba pengunjung.

“Saya berani untuk tester, sudah habis sampai 3 kwintal,” tuturnya.

Tidak hanya itu saja H. Roji juga membawa produk lainnya yakni makanan ringan khas dari Lebak, Banten.

” Selain Labeur Jahe ada juga makanan yang dibawa lebih kurang 8.000 bungkus ciri khas Lebak,” ujar H. Roji.

Walupun omzetnya  mengalami penurunan hingga 40 %, H .Roji tetap optimis.

” Namanya juga usaha pasti ada jatuh bangun,” pungkas H. Roji. ( sari)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *