JD.id, JAKARTA — Ajang penghargaan Anugerah Musik Indonesia (AMI) Awards, kembali digelar untuk ke-29 kalinya. Tahun ini, AMI Awards umumkan total 67 nominasi serta empat kategori baru, yaitu Karya Produksi Hip-hop, Hipdut, Etno, dan Pesta Musik Timur.
Ketua Umum AMI Awards, Chandra Darusman, menyampaikan rasa bangganya terhadap perkembangan industri musik Indonesia yang terus melahirkan inovasi tanpa melupakan musisi senior.
“Setiap tahun tidak pernah bosan karena ada lagu-lagu dan artis-artis baru. Yang sangat menggembirakan, artis-artis senior dan legend juga tetap aktif berproduksi serta berkreasi,” ujar Chandra, di Jakarta, Senen (21/9).
Ia menambahkan bahwa hadirnya empat kategori baru menegaskan komitmen AMI Awards dalam merangkul seluruh genre dan lapisan musisi tanah air.
Dukungan penuh terhadap gelaran ini datang dari Kementerian Kebudayaan. Direktur Film, Musik, dan Seni, Irini Dewi Wanti, S.S., M.Sp., menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan AMI Awards untuk menjaga ekosistem musik nasional.
“Selama 29 tahun konsisten memberikan penghargaan, AMI Awards menjadi perhatian penting kami di Kementerian Kebudayaan. Dalam empat tahun terakhir, kami turut berkolaborasi dan memfasilitasi gelaran ini,” ungkap Irini.
Menurut Irini, anugerah ini bukan sekadar ajang apresiasi karya terbaik, melainkan juga pemicu lahirnya talenta baru serta penyemangat bagi musisi senior untuk terus berkarya.
Selain itu, Perwakilan Tim Sidang Kategorisasi AMI, Syahrani, mengungkapkan bahwa proses penjurian tahun ini berlangsung dinamis dan penuh diskusi intensif akibat banyaknya warna baru yang masuk.
“Meskipun genre pop masih mendominasi, tahun ini ada peningkatan kualitas produksi yang cukup signifikan. Hal baru tidak selalu datang dari artis baru, tetapi juga musisi senior yang terus menghadirkan karya yang fresh,” tutur Syahrani.
Ia juga menyoroti tantangan besar industri musik ke depan, khususnya terkait maraknya penggunaan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam proses produksi musik.
Dikesempatan yang sama, perwakilan Tim Kategorisasi Musik Etno, Arham Ali, membeberkan alasan teknis di balik masuknya kategori Musik Etno dan Pesta Musik Timur pada penyelenggaraan tahun ini.
“Syarat minimal kategori adalah lima karya dari lima nama berbeda. Tahun lalu musik etno hanya ada tiga sampai empat karya, namun tahun ini melonjak menjadi sekitar sepuluh karya sehingga resmikan masuk kategori,” jelas Arham.
Arham menerangkan, Musik Etno berfokus pada keaslian satu etnik tertentu yang memiliki ikatan sejarah (seperti Jawa, Sunda, atau NTT). Jika ada pencampuran hibrida dengan musik barat atau lintas daerah, karya tersebut dimasukkan ke dalam kategori World Music (Global).
Adapun kategori Pesta Musik Timur hadir sebagai bentuk apresiasi terhadap gerakan kebudayaan (cultural movement) musisi Indonesia timur dalam mendefinisikan identitas karya mereka.













