AI dan Efisiensi Industri Dorong Pertumbuhan Pasar Properti Jakarta

JD.id, JAKARTA — Perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan efisiensi operasional menjadi pendorong utama pasar properti komersial di Jakarta. CBRE Indonesia mencatat pasar properti domestik tetap tangguh di sektor perkantoran, industri, logistik, hingga ritel.

Angela Wibawa, Managing Director CBRE Indonesia, menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi Indonesia didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi terkendali, dan investasi yang berkesinambungan. “Indonesia terus menunjukkan ketahanan ekonomi yang kuat, didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, aktivitas investasi yang berkelanjutan, dan pertumbuhan populasi yang menopang pasar domestik. Konsumen masih tetap aktif, namun semakin selektif dengan berfokus pada kualitas, efisiensi, dan long-term value creation,” ujar Angela.

Di kawasan CBD Jakarta, tingkat hunian perkantoran menyentuh 76,6% pada kuartal ketiga dengan net take-up sekitar 22.900 m^2.

Judy Sinurat, Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, menjelaskan bahwa penyewa lebih memprioritaskan gedung berkualitas. “Permintaan tetap terkonsentrasi pada gedung perkantoran Premium Grade dan Grade A, seiring strategi flight-to-quality yang terus dilakukan tenants. Gedung yang menawarkan spesifikasi modern, fitur sustainability, fasilitas lengkap, serta lingkungan kerja yang berkualitas terus mencatat kinerja lebih baik dibandingkan pasar secara keseluruhan,” kata Judy.

Sementara di area Non-CBD, net take-up mencapai 21.600 m^2 dengan okupansi stabil di 73,2%. Albert Dwiyanto, Senior Director dan Co-Head of Office Services CBRE Indonesia, mengungkapkan faktor utama pemilihan lokasi kantor. “Perusahaan kini semakin mempertimbangkan keseimbangan antara kemudahan akses, efisiensi biaya, dan kualitas gedung dalam memilih lokasi kantor. Selain biaya sewa, workplace experience, efisiensi operasional, sustainability, dan kesejahteraan karyawan juga menjadi faktor yang semakin penting dalam pengambilan keputusan,” jelas Albert.

Industri dan Logistik Melesat

Sektor industri dan logistik tampil paling kuat. Penyerapan lahan industri mencapai 59 hektare dengan tingkat hunian 91,6%, sedangkan logistik mencapai 97,0%.

Ivana Susilo, Head of Capital Markets & Industrial Logistics CBRE Indonesia, menyoroti pentingnya utilitas di kawasan industri. “Faktor pembeda yang semakin penting di antara kawasan industri adalah kualitas utilitas dan infrastruktur. Akses listrik, air, dan jaringan telekomunikasi yang dapat diandalkan semakin memengaruhi keputusan occupiers, terutama operator data center dan industri berbasis teknologi,” ujar Ivana. Ia menambahkan, “Kualitas infrastruktur kini menjadi salah satu faktor utama dalam kawasan industri. Bagi banyak perusahaan, khususnya operator data center, utilitas yang dapat diandalkan kini sama pentingnya dengan lokasi.”

Pasar ritel juga menguat dengan okupansi 86,8%, di mana mal premium menembus angka di atas 95%.

Anton Sitorus, Senior Director dan Head of Research & Consulting CBRE Indonesia, menyebutkan pergeseran fungsi mal. “Konsumen kini semakin memandang mal sebagai destinasi dengan pengalaman unik, bukan sekadar tempat berbelanja. Perubahan ini terus menguntungkan mal premium yang memiliki kombinasi tenant yang kuat, penawaran lifestyle yang menarik, dan elemen pengalaman yang lebih lengkap,” ujar Anton.

Mengenai AI, Anton menegaskan bahwa teknologi ini mengubah peta bisnis tanpa serta-merta memangkas kebutuhan ruang kantor secara drastis. “AI bukan lagi konsep masa depan. Teknologi ini sudah mempengaruhi cara berbisnis, cara karyawan bekerja, dan cara pengguna ruang mengevaluasi kebutuhan ruang mereka,” jelasnya.

Menutup pemaparan, Angela Wibawa optimis terhadap prospek pasar ke depan. “Meskipun ada ketidakpastian global, fundamental pasar berangsur membaik di sebagian besar sektor, khususnya industry, logistic, dan data center,” tegas Angela.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *