Petisi Aktivis Pro-Demokrasi Indonesia

Jakarta, Jj.id — Amnesti Internasional Indonesia dan Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) pada akhir tahun 2020 telah mempublikasikan catatan tentang kemunduran demokrasi dan hak-hak asasi manusia di Indonesia, antara lain pembungkaman hak-hak sipil dan kekerasan terhadap aktifis, termasuk pemenjaraan tokoh-tokoh aktifis yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah, sebagaimana yang terjadi pada dua tokoh aktifis nasional, Syahganda Nainggolan serta Jumhur Hidayat.

Terkait kemunduran demokrasi, saat ini kita menyaksikan adanya praktik-praktik nondemokrasi yang dilakukan Pemerintah dengan “meminjam” tangan legislatif dan yudikatif, untuk membungkam kebebasan dan demokrasi. Dalam hal meminjam tangan legislatif, beberapa hak-hak rakyat dikebiri, misalnya hak-hak buruh untuk melakukan hubungan industrial, melalui UU Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker). Legislatif juga tercatat memberikan pelemahan pada cita-cita pemerintahan yang bebas korupsi melalui revisi UU KPK dua tahun lalu.

Kemunduran demokrasi di Indonesia tersebut juga sudah dicatat oleh kalangan akademisi dan pengamat, khususnya pengamat Indonesia dari Australia, juga dari Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat.

Pada saat yang bersamaan, kekuasaan kehakiman juga “dipinjam” eksekutif untuk membungkam lawan-lawan politik ataupun orang-orang yang dianggap “mengganggu” kekuasaan. Penangkapan dan kemudian proses persidangan terhadap Syahganda Nainggolan dan Jumhur adalah contoh nyata. Hal serupa juga dialami oleh kelompok kritis lainnya, termasuk oleh beberapa mahasiswa yang diadili terkait penolakan RUU Cipta Kerja (Ciptaker).

Terkait hal ini, maka kami yang berkumpul dan bertanda tangan di bawah ini, menyatakan keprihatinan, kecemasan dan kekhawatiran terhadap masa dcpan demokrasi di Indonesia. Kepedulian kami ini tidak bisa dilepaskan dari apa yang selama ini telah kami perjuangkan, yakni mendobrak sistem otoritarian Orde Baru dan kemudian melakukan gerakan Reformasi Politik 1998. Perlu digarisbawahi, sebagai bangsa besar, Indonesia selama ini juga telah menjadi role model demokrasi bagi negara-negara ASEAN dan negara-negara Muslim di dunia.

Terkait dengan pemenjaraan Syahganda Nainggolan, aktifis pro-demokrasi yang dituntut Jaksa Penuntut Umum dengan hukuman 6 tahun penyara karcna menyatakan kritiknya di Tweeter terkait RUU Omnibus Law Ciptaker, kami sangat menyayangkan hal tersebut. Patut diduga, kriminalisasi ini telah membawa demokrasi ke kondisi yang tidak sehat.

Untuk itu kami mengajukan petisi sebagai berikut:

  1. Meminta Majelis Hakim Pengadilan Negeri Depok yang mengadili Syahganda Nainggolan untuk membebaskan yang bersangkutan dari segala tuntutan.
  2. Meminta seluruh Hakim dan lembaga peradilan tetap berpegang teguh pada asas independensi hakim sesuai dengan semangat pembagian kekuasaan negara antara eksekutif, legislatif dan yudikatif.
  3. Meminta Pemerintah segera kembali menjalankan demokrasi yang sesungguhnya.

Jakarta, 26 April 2021 Yang bertanda tangan,:

  1. Abdullah Rasyid
  2. Ahmad Syarbini
  3. Ahmad Yani
  4. Alon
  5. Andi Arief
  6. Andrianto
  7. Ariady Achmad
  8. Bursah Zarnubi
  9. Benny K. Harman
  10. Bambang Isti Nugroho
  11. Desyana Zainuddin
  12. Fahri Hamzah
  13. Ferry Juliantono
  14. Gde Siriana
  15. Haris Rusly Moti
  16. Hatta Taliwang
  17. Herdi Sahrasad
  18. Margarito Kamis
  19. M. Din Syamsuddin
  20. MS Kaban
  21. Natalius Pigai
  22. Paskah Irianto
  23. Rachlan Nashidik
  24. Radhar Tri Baskoro
  25. Ray Rangkuti
  26. Refly Harun
  27. Rinjani Soedjono
  28. Rizal Darma Putra
  29. Rocky Gerung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *