“‘39 is 0’ Hadir di Atas Runway: Ketika Satu Muse Membawa Buku Trilogi Road to Mindfulness Karya Hadania.
JD.id, Jakarta — Sebuah peragaan busana terkadang bukan sekadar parade kain dan siluet, melainkan sebuah kanvas tempat seorang seniman menerjemahkan gejolak jiwa. Inilah yang diwujudkan oleh Drg. Hardini Dyah Astuti, Sp. Perio, yang akrab disapa Hadania, saat membawa karyanya ke runway Fashion Show Lippo Mall Kemang, Sabtu, 27 September 2025, melalui jenama miliknya, Asmara Sandhya.
Kehadiran Hadania membawa sebuah dimensi unik dalam dunia fesyen. Sebagai seorang desainer, dokter gigi spesialis, penulis, dan model, kombinasi perannya membuat busana yang ia rancang tak sekadar penutup tubuh. Koleksi ini adalah manifestasi visual dari proyek pribadi dan literasinya: Trilogi Road To Mindfulness yang berjudul “39 is 0”.
Hadania mengangkat konsep “Narasi Fesyen”, di mana setiap potongannya merupakan terjemahan langsung dari kisah dan introspeksi diri yang terangkum dalam trilogi bukunya yang meliputi buku puisi dan foto, buku jurnal, serta kartu oracle. Fesyen di atas runway ini hadir sebagai “Kisah sebuah epilog” yang diwujudkan dalam rupa busana.
Dimana koleksi yang membius mata penonton ini dibawakan oleh enam muse, bahkan satu muse membawa buku karya Hadania, seolah menegaskan bahwa busana dan narasi adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Ini adalah bukti bahwa perjalanan menemukan kesadaran diri (mindfulness) dapat diwujudkan melalui bahasa rupa.
Daya pikat sejati koleksi Asmara Sandhya terletak pada filosofi desainnya. Busana-busana, terutama rok, didominasi oleh lukisan wajah abstrak yang dipadukan dengan warna-warna cerah dan kontras serta pola yang tak terduga. Ini adalah keputusan artistik yang berani, menerjemahkan pemaknaan mendalam dari bahasa seni modern.
Seperti pemilihan warna-warna cerah dan kontras bukanlah kebetulan. Ini melambangkan energi, optimisme, keberanian, dan semangat hidup. Sebuah penegasan atas penemuan kembali jati diri setelah melalui proses panjang. Terdapat 6 look dalam koleksi ini seolah berbisik, “Aku telah melalui badai, dan ini adalah cahayaku.”
Sementara itu, lukisan wajah-wajah dalam gaya abstrak merepresentasikan keragaman emosi, interaksi manusia, atau refleksi identitas diri. Wajah-wajah yang terpecah dan tersusun kembali secara artistik ini adalah cerminan batin sang desainer serta kompleksitas dan subjektivitas kehidupan yang akhirnya dirangkum dalam satu karya.
Penggunaan desain artistik yang mencolok ini adalah pernyataan fesyen yang tegas. Desain ini menunjukkan bahwa pemakainya adalah sosok yang kreatif, unik, berani, dan menghargai seni bukan sekadar pengikut tren, melainkan pembuat maknanya sendiri.
Intinya, karya Asmara Sandhya oleh Hardini Dyah Astuti bukan hanya tentang penampilan luar. Ia adalah jembatan yang menghubungkan dunia batin seorang perempuan, seorang dokter, penulis, dengan “dunia luar”.
Hadania telah berhasil membuktikan bahwa fesyen tertinggi adalah ketika busana yang dikenakan mampu menerjemahkan dan mengisahkan perjalanan jiwa pemakainya.













