JD.id, Jakarta – Penulis, motivator, dan pengusaha terkemuka, Merry Riana, bersama dengan Alva Tjenderasa, secara resmi meluncurkan karya terbaru mereka, “The Mentor: 9 Purnama di Sisi SBY”. Buku ini merupakan catatan mendalam mengenai perjalanan dan pembelajaran Merry Riana bersama Presiden RI ke-6, Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang fokus pada nilai-nilai kepemimpinan dan warisan keteladanan.
Acara peluncuran tersebut menjadi forum refleksi filosofis dari SBY dan testimoni personal dari Agus Harimurti Yudhoyono (AHY).
Dalam sambutannya yang penuh inspirasi, Merry Riana menegaskan bahwa buku ini adalah jembatan antargenerasi dan sebuah perayaan warisan kepemimpinan yang sesungguhnya. Ia menyampaikan inti pembelajarannya, “Bahwa memimpin itu artinya melayani, bekerja itu artinya berkorban. Bahwa warisan yang sesungguhnya bukanlah sebuah kekuasaan atau jabatan, tapi warisan yang sesungguhnya adalah sebuah keteladanan.”
Merry Riana juga mendorong pembaca untuk tidak takut pada ketidakpastian masa depan, sebab hidup adalah “tarian antara harapan dan keberanian.” Menurutnya, misteri masa depan adalah anugerah Tuhan yang membuka ruang untuk percaya dan bermimpi.
Dia mengatakan, menyerahkan “obor” kepada pembaca, yang dimaknai sebagai obor nilai, makna, dan cinta dari seorang mentor. Harapannya, obor ini akan dibawa untuk “Menerangi keluarga, Menerangi komunitas, Menerangi bangsa dan generasi.”
Pada kesempatan yang sama, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memberikan refleksi filosofis mengenai kodrat kehidupan, menyoroti dualisme esensial yang harus dimiliki seorang pemimpin dan manusia.
SBY menyebut bahwa kehidupan menuntut adanya keseimbangan antara kekuatan dan kedamaian. “On the one hand kita memerlukan kekuatan, tetapi on the other hand kita memerlukan ketentuan dan kedamaian (peace). Ini adalah pasangan kodrati,” jelasnya.
Sebagai tokoh senior, SBY menyatakan komitmennya untuk terus berkontribusi, berharap setiap pemikiran yang dibagikan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia yang akan menjadi pewaris perintah dan melanjutkan kepemimpinan bangsa.
Perspektif AHY: Tantangan Nama Besar dan Semangat “Why Not The Best?”
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) turut berbagi refleksi personal mengenai tantangan menyandang nama besar Yudhoyono. AHY jujur mengakui dualitas yang kerap dihadapi: keberhasilan dilekatkan sebagai “beruntung punya nama Yudhoyono,” sementara kegagalan memicu cibiran. Namun, ia menyadari hal itu adalah jawaban atas doa ayahnya.
Ia mengutip doa SBY yang berbunyi:
“Ya Tuhan, jangan berikan anak-anakku jalan yang mudah. Tetapi berikanlah tantangan dalam kehidupan, sekaligus berikan kekuatan. Agar mereka mampu melampauinya dengan ikhlas, dengan tegar, dengan sabar.”
AHY kemudian memaparkan tiga nilai utama yang konsisten diterapkan SBY sebagai seorang mentor. Pertama, semangat Strive for Excellence atau “Why Not The Best?” yang menuntut untuk terus berbuat yang terbaik dan tidak setengah-setengah. Hal ini diikuti dengan pesan untuk “Trust the Progress” dan tidak takut gagal, karena jatuh bangun adalah bagian dari siklus kehidupan.
Kedua, pandangan tentang politik yang berlandaskan nilai, di mana SBY meyakini “banyak jalan menuju rumah” dan seseorang harus berani memilih jalan terbaik tanpa mengorbankan nilai. AHY menggarisbawahi kutipan penting SBY: “Power ends, values stay” (Kekuasaan akan berakhir, tetapi nilai-nilai baik adalah yang abadi).
Terakhir, poin tentang cinta kasih dan keseimbangan hidup. AHY bersaksi mengenai ketangguhan SBY dalam menghadapi kehilangan, mengajarkan bahwa kebahagiaan harus diperjuangkan, dan menunjukkan transformasi luar biasa pasca ditinggal mendiang Ibu Ani Yudhoyono, membuktikan pentingnya keseimbangan hidup di tengah tantangan.
Buku “The Mentor: 9 Purnama di Sisi SBY” diharapkan dapat menjadi panduan bagi generasi penerus bangsa dalam memaknai kepemimpinan, pengorbanan, dan perjuangan untuk yang terbaik.













