JD.id, Jakarta — Dalam upaya mempercepat transformasi energi bersih di Indonesia serta memperkuat kolaborasi internasional di sektor teknologi penyimpanan energi, EESA Summit Indonesia 2025 resmi diselenggarakan di Hotel Sari Pacific Jakarta. Acara ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara EESA China dan Seven Event, dengan dukungan penuh dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral Republik Indonesia (ESDM).
Indonesia, sebagai negara kepulauan terbesar dengan populasi lebih dari 280 juta jiwa, tengah berada dalam fase penting transisi energi. Dengan potensi energi terbarukan yang sangat besar—3294 GW untuk tenaga surya dan 155 GW untuk tenaga angin—Indonesia menargetkan kontribusi energi terbarukan sebesar 23% pada tahun 2025 dan 30% pada 2030. Pemerintah juga telah menyatakan komitmen menuju net-zero emissions pada tahun 2060, sejalan dengan arah kebijakan global.
Untuk mewujudkan target tersebut, pembangunan infrastruktur kelistrikan yang modern, fleksibel, dan berbasis teknologi menjadi krusial. Sistem penyimpanan energi (Energy Storage System/ESS) kini memainkan peranan vital dalam meningkatkan integrasi energi terbarukan, mengelola puncak beban, dan memastikan stabilitas pasokan listrik nasional.
China, sebagai pemain global dalam pengembangan dan produksi teknologi ESS, turut mengambil peran penting melalui partisipasi perusahaan-perusahaan terkemuka seperti Suzhou Inovance Technology, Guangzhou Sanjing Electric, Sungrow Power Supply, Zhejiang Hangtai Shuzhi Energy Development, dan Sienergys. Kehadiran mereka dalam EESA Summit Indonesia 2025 mencerminkan potensi besar kerja sama bilateral dalam mendukung transisi energi di Indonesia.
Andy Wismarsyah, CEO Seven Event, menyatakan bahwa EESA Summit Indonesia 2025 adalah platform strategis untuk mempertemukan pemangku kepentingan dari Indonesia dan China. “Inisiatif ini membuka ruang kolaborasi lintas negara yang berpotensi mempercepat adopsi teknologi penyimpanan energi dan memperkuat ekosistem energi bersih nasional,” ujarnya.
Sejumlah tokoh penting sektor energi nasional turut hadir, termasuk Andriah Feby Misna (Direktur Energi Baru Terbarukan Kementerian ESDM), Zainal Arifin (Ketua Umum MKI), Dr. Ir. Andhika Prastawa (Ketua MASKEEI), dan I Made Aditya S (Wakil Ketua AESI). Para pemangku kepentingan ini menekankan pentingnya integrasi ESS dalam pengembangan jaringan kelistrikan masa depan dan menyuarakan optimisme atas peluang kemitraan strategis yang lahir dari pertemuan ini.
Rene Duan, Secretary-General EESA, juga menyampaikan optimismenya terhadap potensi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan energi bersih. “Melalui EESA Summit, kami berharap menjadi penghubung utama antara pelaku industri energi di China dan Indonesia, dalam rangka menciptakan sistem energi yang berkelanjutan dan saling menguntungkan,” tuturnya.
EESA Summit Indonesia 2025 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi transisi energi melalui inovasi teknologi, kolaborasi global, dan komitmen nasional. Forum ini diharapkan mendorong terjadinya aliansi strategis dan investasi jangka panjang dalam sektor penyimpanan energi, yang menjadi pilar penting dalam mencapai ketahanan energi dan keberlanjutan lingkungan.











